Senin, 14 November 2011

Tahukah Anda tentang Indeks Glikemik???



Indeks glikemik pangan adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap kadar gula darah. IG membolehkan penderita diabetes mellitus memilih jebis karbohidrat yang tepat untuk mengendalikan gula darahnya (Rimbawan&Siagian 2004). Makanan yang memiliki IG rendah membantu orang untuk mengendalikan rasa lapar, nafsu makan, dan kadar gula darah. Indeks glikemik membantu orang yang sedang berusaha menurunkan berat tubuh dengan cara memilih makanan yang cepat mengenyangkan dan tahan lama. Selain itu, IG membantu seorang atlet memilih makanan yang tepat untuk menunjang penampilan menurut jenis olahraga yang digelutinya (Miller, dkk 1996). Kategori pangan menurut Indeks Glikemik yaitu pangan dengan IG rendah (<55), IG sedang (55-70), dan IG tinggi (>70) (Miller, dkk 1996).
 Jadi, makanan yang memiliki Indeks Glikemik rendah cocok untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes mellitus dan orang yang ingin menurunkan berat badan. 
Berikut jenis makanan-makanan yang biasa dikonsumsi orang Indonesia yang mempunyai IG rendah :
- Kue-kue : kue pisang, kue bolu (plain)
- Jus : Jus aoel murni (tanpa gula), jus wortel segar, jus nanas, jus tomat (tanpa gula)
- Es krim : es krim rendah lemak
- Susu : Susu low fat, susu skim, yoghurt, susu kedelai
- Buah : Apel, pir, stroberi
- Tumbuhan polong dan kacang-kacangan : buncis, kacang polong, kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah, kacang tanah




Sumber :Rimbawa, Siagian.2004. Indeks Glikemik Pangan. Penebar Swadaya: Jakarta
INDEKS GLIKEMIK DAN GIZI SEIMBANG

Bagaimana Memilih Makanan yang Menyehatkan
Hal penting yang harus diketahui sebelum memutuskan mengkonsumsi suatu makanan adalah mengetahui apa yang diperbuatnya pada tubuh kita. Bila peduli kesehatan, dengan mengetahui hal ini maka rasa dan harga menjadi pilihan kedua. Perlu diingat bahwa harga makanan tidak selalu identik dengan mutu. Sebagai contoh, jambu biji dapat memberikan manfaat lebih daripada jeruk. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jambu biji (terutama yang berdaging buah merah), selain kaya vitamin C, juga mengandung lycopene (suatu komponen aktif yang berperan mencegah kanker).
Makanan enak dan menyehatkan bukanlah dua sisi yang selalu bersebrangan. Makanan yang kurang enak bukan berarti selalu menyehatkan. Es krim (IG = 50), misalnya, pada jumlah kalori yang sama, menyebabkan peningkatan kadar gula darah lebih rendah dibandingkan nasi (IG = 60-70). Peningkatan ini jauh lebih rendah daripada peningkatan kadar gula darah oleh minuman ringan (soft drink). Mengkonsumsi makanan berlemak dan mengandung kolesterol tidak perlu khawatir, asalkan diimbangi dengan makanan rendah lemak (mengandung serat dan vitamin E) pada hari yang sama atau setidaknya pada hari berikutnya. Beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan pemilihan makanan yang menyehatkan antara lain sebagai berikut:
·         Tidak semua karbohidrat baik untuk kesehatan. Konsep IG menegaskan bahwa tidak semua karbohidrat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, “Pilihlah karbohidrat yang baik untuk kesehatan sesuai dengan keadaan fisiologis tubuh dan aktivitas fisik!”. Pada keadaan sehat, sebaiknya memilih karbohidrat ber-IG rendah atau sedang dalam upaya pencegahan timbulnya penyakit-penyakit metabolik yang berkaitan dengan kelebihan konsumsi energi. Perlu diingat bahwa menurunkan IG pangan juga berarti menganekaragamkan konsumsi pangan sehingga pola makan menjadi seimbang.
·         Tidak selamanya lemak buruk untuk kesehatan. Lemak dan kolesterol tidak harus dijauhi. Hal penting adalah bagaimana memilih sumber lemak yang tepat. Tubuh memerlukan kolesterol untuk membuat membran sel, garam empedu, dan hormon esensial. Lemak dan kolesterol akan merugikan kesehatan bila dikonsumsi secara berlebihan.
·         Pilihlah protein yang baik untuk kesehatan. Protein terdapat dalam tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani). Protein nabati terutama kacang-kacangan, baik untuk kesehatan. Protein hewani bersumber dari ikan, telur, dan unggas juga baik untuk dikonsumsi. Daging merah, seperti daging sapi atau daging kambing, mengandung protein hewani tinggi. Namun, karena daging mengandung lemak jenuh dan karsinogenik bila dipanaskan atau dibakar, makanan ini jangan ditempatkan sebagai sumber protein utama.
·         Makanlah buah dan sayur setiap hari. Tidak ada pembatasan konsumsi makanan jenis ini. Sayur dan buah mengandung vitamin, mineral, serat dan komponen aktif (seperti kolin, lycopene, lutein, dan fenolik) yang sangat dibutuhkan tubuh. Kandungan serat yang banyak ditemukan pada sayur dan buah diketahui dapat menghambat penyerapan karbohidrat. Akibatnya, karbohidrat diserap secara perlahan-lahan dan pada akhirnya kadar gula darah naik secara perlahan-lahan (IG turun).
·         Gunakan suplemen makanan bila benar-benar dibutuhkan. Dewasa ini banyak ditemukan produk suplemen makanan yang menawarkan berbagai jenis zat gizi (seperti diperkaya dengan vitamin atau mineral, atau keduanya). Kita membutuhkan suplemen makanan hanya bila mengalami gangguan pencernaan, tidak menyukai makanan tertentu terutama sayur dan buah, atau menderita penyakit tertentu. Pada tingkat konsumsi makanan yang normal dan seimbang, kita tidak memerlukan suplemen makanan. Hati-hati dengan suplemen dosis tinggi. Kelebihan vitamin dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.

Olahraga dan Pengendalian Berat Tubuh
Untuk membina kesehatan jangka panjang, kita membutuhkan gerak tubuh secara teratur. Berolahraga secara teratur lebih penting daripada pengaturan lemak jenuh dan tidak jenuh. Selain itu, pemilihan jenis karbohidrat yang tepat juga dibutuhkan dalam makanan kita. Pada dasarnya, konsep IG didasarkan pada peranan zat gizi di dalam tubuh manusia. Namun, konsep ini tidak bertentangan dengan konsep Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) di Indonesia. Makan enak boleh-boleh saja asalkan dilakukan dengan bijak, walaupun rasa enak berbeda dari satu orang ke orang lain. Tentu tidak mungkin tercapai keadaan sehat tanpa ada kepedulian dan sedikit pengorbanan. “Makan enak dan terus sehat”, tentu boleh. Yang tidak boleh adalah “makan enak terus dan sehat terus”.




Sumber :Rimbawa, Siagian.2004. Indeks Glikemik Pangan. Penebar Swadaya: Jakarta

Rabu, 09 November 2011

Serba-Serbi MSG
Monosodium glutamate  (MSG)  adalah garam natrium yang dari asam  glutamate secara alami merupakan asam amino  essensial, glutamat.  Struktur kimia dari  MSG adalah C5H8N04, dengan massa mollarnya  169,111gram/mol dan kelarutan dalam air 74 gram/100ml. MSG memiliki  bentuk padat atau kristal dengan warna putih yang stabil. Akan tetapi dapat mengalami degradasi oleh karena agen oksidasi yang kuat.  Pada pH fisiologis,  asam glutamate ditemukan dalam bentuk anionik dan disebut sebagai glutamat. Hal ini ditemukan pada permukaaan protein dan memainkan peran sentral dalam reaksi transaminasi dan menyeimbangkan asam keto yang sesuai (Jhon Han 2009).
Monosodium glutamate (MSG) adalah salah satu penyedap sintetis yang merupakan senyawa kimia yang dapat memperkuat atau memodifikasi rasa makanan sehingga makanan tersebut terasa lebih gurih dan nikmat. Tetapi jika dibandingkan bumbu alami dengan MSG, maka MSG dapat meninggalkan rasa pahit atau tidak enak dimulut.  MSG dapat memacu terjadinya reaksi alergi seperti ruam di kulit, mual, muntah, sakit kepala dan migrain (Yuliarti, 2007). Dalam jumlah tertentu MSG dianggap masih aman. Namun demikian untuk kesehatan konsumen dan mengantisipasi adanya efek samping buruk yang mungkin terjadi bila mengkonsumsi dalam jumlah besar, maka penggunaan MSG harus dibatasi. Beberapa negara industri dan negara maju menetapkan konsumsi MSG yang masih bisa ditoleransi sebesar 0,3-1 gram per hari (Yuliarti 2007).
Otak manusia adalah satu-satunya jaringan yang memiliki kadar glutamate paling tinggi. Hal ini diperoleh dari glukosa melalui siklus krebs, yang kemudian akan disimpan dalam vesikula sinaptik dan kemudian dirilis oleh  exositosis kalium. Glutamate disintesis dalam tubuh melalui transaminasi dari α-ketoglutarate oleh kelompok penerima amino dari asam amino.
Menurut Food Standards Australia New Zealand pada tahun 2003, MSG adalah faktor yang dapat menyebabkan reaksi sistemik dan dapat menyebabkan penyakit yang kronis bahkan kematian. Sindrom yang paling sering muncul adalah sindrom restoran cina. Gejala sindrom restoran cina yang dapat timbul berupa muntah, meningkatnya denyut jantung, dan pada penderita asma dapat menyebabkan bronkokonstriksi saluran pernafasan.  Pada penyakit migrain tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Ada beberapa pencetus migrain yang telah diketahui, seperti riwayat keluarga,  stress, tidur yang berlebihan atau tidak cukup tidur, obat-obatan seperti vasodilator, kontrasepsi oral, merokok, makanan yang mengandung tiramine, bau-bauan yang menyengat, perubahan hormon, trauma kepala, perubahan cuaca, penyakit infeksi atau metabolik, rangsangan dingin, pemanis buatan seperti aspartame dan saccharin, dan penyedap rasa seperti MSG (Braswell, 2008).
Menurut FDA (Food Drugs Administration),  MSG dapat mengakibatkan: mati rasa,  sensasi terbakar pada kulit, kesemutan, tekanan pada wajah, rasa sesak pada dada,  nyeri dada, sakit kepala, mual, detak jantung  meningkat, mengantuk, kelemahan otot, memicu serangan asma penderita asma. Menurut Schwartz dan George (1995) semua bentuk  MSG dapat menimbulkan reaksi-reaksi pada orang yang sensitif terhadap MSG. MSG  menyebabkan gejala sebagai berikut:
Kardiovascular.
Biasa dapat menimbulkan: arrhythmia, fibrilasi atrium, takikardia, palpitasi, nyeri dada, peningkat tekanan darah yang tiba-tiba.
Gastrointestinal.
Dapat menyebabkan diare, mual, muntah, kolik, perdarahan rektal.
Musculoskeletal system.
Dapat menyebabkan spasme otot, sensasi nyeri pada tubuh.
Neurologis.
Dapat menyebabkan sakit kepala, migrain, stroke, light-headedness, kehilangan keseimbangan,  disorientasi, gelisah, penyakit, hiperaktif, insomnia, mati rasa, lumpuh, gemetar. Secara visual dapat menyebabkan pandangan kabur,  kesulitan fokus,  rasa tertekan di sekitar mata.
Saluran Pernafasan.
Dapat menyebabkan memicu terjadinya asma pada penderita asma,  sesak napas, nyeri dada,bersin.
Urologi Genital.
Dapat menyebabkan nyeri pada kandung kemih  (dengan frekuensi), pembengkakan prostat, pembengkakan vagina, vagina spotting,  sering buang air kecil, nokturia.
Kulit dan mukosa mulut.
Dapat menyebabkan: ruam, lesi dimulut, flushing, mulut kering.

Sumber:
Braswell R. 2008.  Headache, Migraine.  Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1214886-overview
Han, Jhon E. S., 2009. monosodium glutamate as  a chemical condiment. Available from: http://pubs.acs.org
Schwartz, George R. 1995.  In bad taste: the MSG syndrome. Santa fe: Health press.
Yuliarti N. 2007. Awas Bahaya Dibalik Lezatnya Makanan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Senin, 07 November 2011


Semua tentang GASTRITIS....(part 1)
Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Dengan demikian gastritis adalah inflamasi atau peradangan pada mukosa lambung (Price & Wilson 2003, Setiawan 2008, Bethesda 2004). Inflamasi ini mengakibatkan sel darah putih menuju ke dinding lambung sebagai respon terjadinya kelainan pada bagian tersebut.
Gastritis terbagi dua tipe yaitu gastritis akut dan gastritis kronis. Gastritis akut merupakan kelainan klinis akut yang menyebabkan perubahan pada mukosa lambung antara lain ditemukan sel inflamasi akut dan neutrofil (Wibowo 2007), mukosa edema, merah dan terjadi erosi kecil dan perdarahan (Price & Wilson 2003). Gastritis kronik ditandai dengan atrofi progresif epitel kelenjar disertai hilangnya sel parietal dan chief cell di lambung, dinding lambung menjadi tipis dan permukaan mukosa menjadi rata (Price & Wilson 2003).
Faktor penyebab Gastritis
Infeksi bakteri.
Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri Helicobacter pylori yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini.
Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus.
Obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) seperti aspirin, ibuprofen, naproxen dan piroxicam dapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemakaian obat-obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer (Jackson 2006, Sagal 2006).
Penggunaan alkohol dan kokain secara berlebihan.
Alkohol dan kokain dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal sehingga dapat menyebabkan perdarahan (Wibowo 2007).
Stres fisik.
Stres fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis, ulkus serta pendarahan pada lambung. Hal ini disebabkan oleh penurunan aliran darah termasuk pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan gangguan pada produksi mukus dan fungsi sel epitel lambung (Price & Wilson 2003, Wibowo 2007).
Stres psikologis
Respon mual dan muntah yang dirasakan pada saat individu mengalami stres menunjukan bahwa stres berefek pada saluran pencernaan. Konstipasi biasanya terjadi pada individu yang mengalami depresi sedangkan diare biasanya terjadi pada individu yang berada pada kondisi panik. Stres memiliki pengaruh yang negatif terhadap saluran pencernaan antara lain dapat menyebabkan individu mengalami luka (ulcer) pada saluran pencernaan termasuk pada lambung yang disebut dengan penyakit gastritis. Efek lain stres terhadap pencernaan adalah dengan menurunkan efektifitas kerja sistem imunitas tubuh. Stres dapat menjadi penyebab utama penyakit tertentu dan juga bisa menjadi penyebab keparahan atau kekambuhan suatu penyakit. Jika terpapar secara terus menerus terhadap stressor maka kelebihan hormon yang dilepaskan selama merespon stres yang berulang ulang akan mengganggu sistem kekebalan tubuh sehingga badan menjadi rentan terhadap bakteri dan virus. Salah satu cara untuk mengontrol kerja sistem endokrin dan sistem saraf simpatis akibat stres terhadap saluran pencernaan yang dialami adalah melalui latihan manajemen stres (Greenberg 2002).
Kelainan autoimun.
Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung dan menganggu produksi faktor intrinsic (sebuah zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B12). Kekurangan B12 akhirnya dapat mengakibatkan pernicious anemia, sebuah kondisi serius yang jika tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh. Autoimmune atrophic gastritis terjadi terutama pada orang tua (Jackson 2006).
Penyakit bile reflux
Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-lemak dalam tubuh yang diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian saluran kecil menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk seperti cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk ke dalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis (Price & Wilson 2003, Wibowo 2007, Kumar et al 2005). Gastritis dapat terjadi bila terdapat satu atau gabungan dari beberapa faktor penyebab di atas.


Semua tentang GASTRITIS....(part 2)

Gejala dan Tanda Gastritis
Severance (2001) menyatakan bahwa walaupun banyak kondisi yang dapat menyebabkan gastritis, gejala dan tanda-tanda penyakit ini sama antara satu dengan yang lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain perih atau sakit seperti terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk ketika makan (abdominal cramping and pain), mual (nausea), muntah (vomiting), kehilangan selera (loss of appetite), kembung (Belching or bloating), terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan, dan kehilangan berat badan (weight loss). Gastritis yang terjadi tiba-tiba (akut) biasanya mempunyai gejala mual dan rasa nyeri seperti terbakar (burning pain) atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas, sedangkan gastritis kronis yang berkembang secara bertahap biasanya menimbulkan gejala seperti sakit yang ringan (dull pain) pada perut bagian atas dan terasa penuh atau kehilangan selera setelah makan beberapa gigitan.
Bagi sebagian orang gastritis kronis tidak menyebabkan gejala apapun (Jackson 2006). Nyeri yang dirasakan adalah merupakan respon sistem saraf yang distimulasi oleh beberapa faktor yang akan dijelaskan lebih lanjut. Nyeri yang dirasakan penderita gastritis akut dapat mengalami kekambuhan. Episode berulang atau kekambuhan berulang gastritis akut dapat menyebabkan gastritis berkembang menjadi gastritis kronik (Lewis et al 2000). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulidiyah (2006) menyatakan bahwa hampir semua penderita gastritis mengalami kekambuhan. Salah satu faktor yang paling dominan menyebabkan kekambuhan gastritis adalah stres psikologis.

Patofisiologi Gastritis
Patofisiologi terjadinya gastritis dan tukak peptik ialah bila terdapat ketidakseimbangan faktor ofensif (penyerang) dan faktor defensif (pertahanan) pada mukosa gastroduodenal, yakni peningkatan faktor ofensif dan atau penurunan kapasitas defensif mukosa. Faktor ofensif tersebut meliputi asam lambung, pepsin, asam empedu, enzim pankreas, infeksi Helicobacter pyllori yang bersifat gram-negatif, OAINS, alkohol, dan radikal bebas. Sedangkan sistem pertahanan atau faktor defensif mukosa gastroduodenal terdiri dari 3 lapis yakni elemen preepitelial, epitelial, dan subepitelial (Pangestu 2003).
Elemen preepitelial sebagai lapis pertahanan pertama adalah berupa lapisan mucus bicarbonate yang merupakan penghalang fisikokimiawi terhadap berbagai bahan kimia termasuk ion hidrogen. Fungsi mukus ini menghalangi difusi ion dan molekul, misalnya pepsin. Bikarbonat yang disekresi sel epitel permukaan membentuk gradasi pH di lapisan mukus. Stimulasi sekresi bikarbonat oleh kalsium, prostaglandin, asam, dan rangsang cholinergik. Prostaglandin adalah metabolit asam arakhidonat dan menduduki peran sentral dalam pertahanan epitelial yaitu mengatur sekresi mukus dan bikarbonat, menghambat sekresi sel parietal, mempertahankan sirkulasi mukosa, dan restitusi sel (Kumar et al 2005).
Lapis pertahanan kedua adalah sel epitel itu sendiri. Aktifitas pertahanannya meliputi produksi mukus, bikarbonat, transportasi ion untuk mempertahankan pH, dan membuat ikatan antar sel. Pada umumnya sel epitel yang rusak akan sembuh dan mengalami regenerasi selama 3 sampai 5 hari (Timby et al 1999). Bila kerusakan mukosa luas dan tidak teratasi dengan proses restitusi akan diatasi dengan proliferasi sel epitel.
Lapisan pertahanan ketiga adalah aliran darah dan lekosit. Komponen terpenting lapisan pertahanan ini ialah mikrosirkulasi subepitelial yang adekuat. Sirkulasi darah ke epitel sangat diperlukan untuk mempertahankan keutuhan dan kelangsungan hidup sel epitel dengan memasok oksigen, mikronutrien, dan membuang produk metabolisme yang toksik sehingga sel epitel dapat berfungsi dengan baik untuk melindungi mukosa lambung (Pangestu 2003).



Semua tentang GASTRITIS....(part 3)
Faktor Risiko Gastritis
Lanjut usia
Lanjut usia meningkatkan resiko gastritis disebabkan karena dinding mukosa lambung semakin menipis akibat usia tua dan pada usia tua lebih mudah untuk terinfeksi Helicobacter pyllori atau penyakit autoimun daripada usia muda (Jackson 2006).
Pola makan
Perubahan pola makan meliputi tidak teraturnya waktu makan, frekuensi makan, jenis makanan dan porsi makanan yang dikonsumsi. Perubahan pola makan lansia antara lain cepat merasa kenyang, makan menjadi malas dan tidak teratur sehingga berisiko mengalami gangguan pada saluran pencernaan khususnya gastritis (Miller 2004).
Gangguan fungsional dan proses penyakit
Penurunan kemampuan (fungsional) berhubungan erat dengan nutrisi yang kurang dan kesulitan memproses makanan (Miller 2004). Misalnya jika terjadi gangguan penglihatan dan gangguan mobilitas akan mempengaruhi kemampuan lansia memproses dan menyiapkan makanan sehingga menyebabkan pola makan menjadi tidak teratur. Penyakit lain seperti demensia dan stroke dapat menyebabkan terjadinya disfagia (kesulitan menelan) sehingga mempengaruhi kemampuan fungsional lansia dan mempengaruhi kualitas hidup lansia.
Efek obat-obatan
Obat-obatan dapat menjadi faktor risiko terjadinya kerusakan pada saluran pencernaan dan mempengaruhi pemenuhan nutrisi akibat efeknya terhadap proses pencernaan makanan, pola makan dan penyerapan makanan. Efek obat-obatan sering terjadi pada usia lanjut akibat peningkatan pemakaian jenis obatan-obatan yang dapat memiliki efek samping yang saling berlawanan (Miller 2004). Efek samping obat-obatan dapat berupa anoreksia, xerostomia, early satiety (cepat merasa kenyang) dan menurunkan kemampuan rasa dan penciuman sehingga menyebabkan gangguan pada pola makan.
Gaya hidup
Gaya hidup seperti konsumsi alkohol merokok dan konsumsi kafein dapat mempengaruhi terjadinya gastritis. Alkohol dan zat nikotin dalam rokok dapat mengiritasi mukosa lambung. Alkohol dapat mengganggu absorbsi vitamin B kompleks dan vitamin C sehingga dapat menyebabkan gangguan pemenuhan nutrisi sehingga dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh dan menyebabkan individu rentan untuk mengalami infeksi, termasuk infeksi kuman Helicobacter pyllori yang dapat menyebabkan gastritis (Miller 2004, Smeltzer & Bare 1996). Merokok dapat menurunkan kemampuan penciuman dan pengecapan makanan serta mengganggu absorbsi vitamin C dan asam folat (Miller 2004). Kafein dapat menstimulasi produksi pepsin yang bersifat asam sehingga dapat menyebabkan iritasi dan erosi mukosa lambung (Smeltzer & Bare 1996).
Faktor psikososial
Faktor psikososial yang terjadi pada lansia antara lain kehilangan (pasangan, teman, keluarga, pekerjaan, kegiatan, hubungan sosial), penyakit kronik yang dialami, serta peningkatan ketergantungan pada orang lain dalam pemenuhan kebutuhan hidup dapat merupakan sumber stres bagi lansia sehingga dapat menyebabkan terjadinya gastritis. Efek stres pada saluran pencernaan menyebabkan penurunan aliran darah pada sel epitel lambung dan mempengaruhi fungsi sel epitel dalam melindungi mukosa lambung (Greenberg 2002).
Faktor budaya dan sosial ekonomi
Latar belakang etnis, nilai-nilai kepercayaan, dan faktor budaya lainnya sangat mempengaruhi dalam memilih, menyiapkan dan mengkonsumsi makanan dan minuman. Pada budaya tertentu menyukai jenis makanan yang pedas atau asam sehingga menyebabkan peningkatan risiko terjadinya gastritis. Faktor sosial ekonomi juga mempengaruhi pola makan dan pemilihan makanan. Pada lansia penurunan pendapatan atau penghasilan menyebabkan keterbatasan pada pemilihan dan penyediaan makanan sehingga menyebabkan penurunan asupan nutrisi yang adekuat (Miller 2004).
Faktor lingkungan
Lingkungan rumah dapat mempengaruhi pola makan dan sekaligus dapat menjadi sumber stres bagi lansia. Lingkungan rumah yang bising atau padat penghuni mempengaruhi konsumsi makanan dan kemampuan menikmati makanan. Lingkungan rumah yang sepi atau tidak ada teman juga dapat merupakan stresor bagi lansia dan memicu stres psikologis, sehinngga meningkatkan resiko terjadinya gangguan saluran pencernaan termasuk gastritis (Miller 2004).
Perilaku berhubungan dengan ketidakpahaman
Kurang pengetahuan tentang diet dan proses penyakit gastritis dapat menyebabkan risiko  terjadinya gastritis dan kekambuhan penyakitgastritis. Pengetahuan tentang makanan dan minuman pantangan pada penderita gastritis sangat mempengaruhi perilaku lansia dalam pemilihan makanan. Penelitian yang ada menunjukan bahwa pada individu dengan pendidikan rendah berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang dan kurangnya kunjungan ke pelayanan kesehatan (Miller 2004).

Semua tentang GASTRITIS....(part 4)
Penatalaksanaan Pengobatan Gastritis Secara Klinis
Wibowo (2007) menyatakan bahwa terapi gastritis sangat bergantung pada penyebab spesifiknya dan mungkin memerlukan perubahan dalam gaya hidup, pengobatan atau dalam kasus yang jarang dilakukan pembedahan untuk mengobatinya. Terapi yang umumnya diberikan adalah terapi menurunkan asam lambung dan terapi terhadap Helicobacter pylori. Asam lambung mengiritasi jaringan yang meradang dalam lambung dan menyebabkan sakit dan peradangan yang lebih parah. Itulah sebabnya, bagi sebagian besar tipe gastritis, terapinya melibatkan obat-obat yang mengurangi atau menetralkan asam lambung seperti antasida, obat penghambat asam, obat penghambat pompa proton, dan Cytoprotective agents.
Antasida merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralisir asam lambung dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam lambung dengan cepat. Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit tersebut, dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin, nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi. Cara selanjutnya yang lebih efektif untuk mengurangi asam lambung adalah dengan cara menutup “pompa” asam dalam sel-sel lambung penghasil asam. Penghambat pompa proton mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari pompa-pompa ini. Beberapa yang termasuk obat golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja Helicobacter pylori.
Obat-obat yang berfungsi melindungi jaringan-jaringan yang melapisi lambung dan usus kecil (Cytoprotective agents) direkomendasikan jika meminum obat-obat anti inflamasi non steroid secara teratur. Obat-obat yang termasuk dalam golongan ini adalah golongan ini adalah sucraflate, misoprostol, dan bismuth subsalicylate. Bismuth subsalicylate juga berfungsi menghambat aktivitas Helicobacter pylori (Wibowo 2007). Terdapat beberapa regimen dalam mengatasi infeksi Helicobacter pylori. Hal yang paling sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri, penghambat pompa proton berfungsi untuk meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik (Jackson 2006).
Untuk memastikan Helicobacter pylori sudah hilang, dapat dilakukan pemeriksaan kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan feces adalah jenis pemeriksaan yang sering dipakai untuk memastikan sudah tidak adanya Helicobacter pylori. Pemeriksaan darah akan menunjukkan hasil yang positif selama beberapa bulan atau bahkan lebih walaupun pada kenyataannya bakteri tersebut sudah hilang (Jackson 2006). Meskipun obat-obat gastritis terbukti efektif dalam menurunkan nyeri dan mengobati penyakit gastritis, namun pemakain obat obat gastritis jangka panjang juga memiliki efek samping tertentu. Efek samping obat obat gastritis jangka panjang antara lain konstipasi (obat yang mengandung aluminium & kalsium hidroksida) atau diare (obat yang mengandung magnesium hidroksida). Obat gastritis yang mengandung magnesium harus berhati-hati atau bahkan tidak diperbolehkan dikonsumsi oleh penderita gangguan ginjal karena akan meningkatkan kadar magnesium dalam darah. Selain itu obat gastritis tertentu juga dapat berinteraksi dengan senyawa logam lain yang terkandung pada makanan atau obat tertentu antara lain antidepresan, antihistamin, isoniazid, penisilin, tetrasiklin, vitamin B12 sehingga antisipasinya adalah adanya jarak atau selang waktu minum obat 1- 2 jam (Ridho 2009).